Membela Suku Odelwala dalam Konflik Ulayat Internal di Kampung Hobamatan
Orangtimur - Sekali lagi minta maaf, saya masih menulis lagi lebih menukik tentang konflik di kampung kami Hobamatan, Desa Mahal dan Mahal 2. Saya bukan seorang ahli hukum positif, karena itu, tulisan ini hanya sebuah bentuk pembelaan terhadap Odelwala dalam kaitan dengan konflik ulayat dilihat dari sudut budaya, sejarah, konflik, relasi sosial dan lainnya. Mengapa saya berani menulis di media sosial? Sebagai anak kampung Hobamatan, sebagian besar hidup saya di kampung ini sehingga saya paham dinamika dan konflik horizontal yang terjadi.
Keberanian menulis ini bertujuan untuk membuka ruang diskusi dengan orang lain, meluruskan isu-isu liar yang berkembang di kampung lain yang disebarkan oleh oknum-oknum yang kalah berargumentasi secara sportif. Tujuan paling penting supaya konflik ulayat internal mampu diselesaikan sampai final bukan digantung atau dibiarkan yang dampaknya bisa terjadi bom waktu yang lebih parah – konflik bisa lebih masif.
Artinya, melalui media sosial, saya mau mewartakan sebuah Solusi. Walaupun demikian, sebagai orang Odelwala, selain menawarkan solusi, saya akan bernarasi membela suku saya yang mungkin di luar kampung sudah digosip macam-macam bahkan seolah-olah Odelwala pendatang dari luar Lembata, hehe.
Kampung Hobamatan Pra-Kolonialisme
Kalau kita mengukur kampung Hobamatan dengan kampung-kampung lain, terdapat perbedaan. Orang-orang di kampung ini lahir dari DNA yang berbeda – Leu Pahe. Kampung ini tidak lahir dari kampung mandiri-tunggal; ia lahir dari gabungan kampung-kampung mandiri. Maka seringkali orang mengambil kesimpulan keliru seolah-olah karena kampung ini bernama Hobamatan, maka yang lainnya juga menempatkan suku Hobamatan sebagai sentral. Bukan begitu kawan, mari kita lihat.
Dalam proses penelitian, saya menemukan bahwa kampung Hobamatan ditopang oleh 5 kampung mandiri yakni Odelwala, Hobamatan, Orolaleng, Lobemato, dan Peuuma Obu’ (gabungan Peuuma dan Peuobou’). Masing-masing kampung ini melakukan proses migrasi yang tidak sama walaupun semuanya berasal dari gunung Uyelewun. Orang Odelwala sering digosip sebagai orang yang datang dari Munaseli, padahal secara adat Kedang, Odelwala punya silsilah terstruktur sampai Baran Ai Pu’en, punya Lapa’ Leu, Koda dan lain sebagainya. Ia punya Sejarah yang cukup panjang dan berbelit-belit yakni mulai dari Peusawa Leutuan-Nuha Nera Tapo Baran, Suba Wutu’, Atenila, dst, maka Naher Leunya juga panjang.
Ia membuka kampungnya di Beu Nangan Lolon dengan Naher Leu: Kode Lama Lireng-Tapo Lama Mengi-Pu Wea’ Nangan Lolon-Ang Ba’a Ular Doro, Kul Kel Kala Leko’-Botung Ili Toreng Wata- Koko Une’ Lekor Wayan, Leu nore naya-Awu’ nore oli’.
Leluhur Odelwala yang bernama Todo Lele (Todo tahal) memiliki 14 orang anak yang tersebar baik di Ero La’i maupun ero Wehe’. Maka terbukti di bagian Ero Wehe’ ada bukti-bukti fisik yang berkaitan dengan Sejarah Odelwala misalnya Wei Lawan (Timu Bou), Perung Pada Raba di Panama (Raba Todo), Tua’ Wei, Perung Peu Bu’u di pekuburan umum Desa Mahal, La’a Koba’ Tapo (rumpun bambu di Mahal yang sudah dibongkar menjadi kebun, Ite Laleng di Riang La’i (Bolong Todo) dst.
Selanjutnya, kampung Hobamatan merupakan turunan dari Ta’ Pu’en yang bersaudara dengan Ai Pu’en. Proses migrasi mereka tidak panjang dan berbelit-belit. Dalam temuan wawancara, para narasumber menjelaskan tiga tempat persinggahan leluhur Hobamatan yakni Uyelewun-Koda-Peusawa-Lewo Eleng Natang Wutu’ (kampung lama Hobamatan sekarang). Kampung ini dulunya berdiri sendiri tidak bergabung dengan kampung-kampung lain yang kini disebut suku-suku. Naher Leu Hobamatan yakni Matan Lama Mangan-Lida Lama Loru’, Ar Ata’ Lela Banga-Lewo Eleng Natang Wutu’ – naher ini kemudian setelah bergabungnya kampung-kampung lain zaman kolonial dipakai oleh semua kampung tersebut yang kini menjadi suku-suku – Matan Lama Mangan.
Kampung Orolaleng juga merupakan turunan dari Uyo Lewun yang lebih khusus pada moyang Lahar Loyo. Proses migrasi mereka juga cukup panjang dan berbelit-belit. Bahkan secara pribadi, orang Orolaleng menurut saya merupakan salah satu pengembara pertama mengelilingi Uyelewun. Bermula dari Leuwayan-Ape Napo’, seterusnya ke Pantai Selatan dan menetap lama di Wowon dan sekitarnya sehingga ulayat mereka sangat luas dari Wowon sampai Natu di Desa Mahal. Seterusnya mereka bermigrasi ke pedalaman; ada yang lebih dulu, ada yang kemudian.
Salah satu leluhur mereka menetap lama di Eder perbatasan dengan Tua’mado bahkan menjadi pemilik ulayat di Eder dan sekitarnya ke arah barat. Namun, karena terjadi konflik dengan orang Odelwala – mereka membunuh Raba Todo – sehingga leluhur Orolaleng ini bermigrasi pindah ke Lewolein. Leluhur Orolaleng lainnya pun datang dan seterusnya terakhir tinggal bersama dengan Odelwala – padahal leluhur Oraolaleng pernah membunuh leluhur Odel - sehingga hari ini kampung lama Odel dan Orolaleng sangat bertetangga dekat. Karena sebuah pristiwa, leluhur Odel memberikan tempat kepada orang Orolaleng untuk Pating Leu (buka’ leu) di kampung lama mereka yang berada di atas ulayat Odelwala: Haba Leu-Lawe Leu.
Maka sesungguhnya, dua kampung ini sejak dulu sudah bersahabat. Orang yang belajar Sejarah dan memetik makna dari Sejarah ini, maka akan mengatakkan Odelwala dan Orolaleng seharusnya tidak boleh konflik! Naher Leu Orolaleng yakni Koli Lama Lima-Koro Lama Bura’.
Selanjutnya kampung Lobemato. Dalam hasil wawancara, saya merangkum secara garis besar bahwa orang Lobemato dilahirkan oleh moyang bernama Moi Ruda. Mereka pun melakukan migrasi dari Uyelewun dan seterusnya ke kampung lama Lobemato sekarang. Leluhur orang Lobemato adalah para ahli berburu dan menangkap ikan. Bahkan nama Lobemato juga berkaitan dengan Sejarah ular mato yang akar ceritanya dari proses berburu di hutan yang menjerat seekor ular besar. Orang Lobemato dalam Sejarah pemerintahan lokal di kampung Hobamatan memiliki peran penting yakni menjadi Tamukung Leu. Sampai saat ini, saya belum menemukan naher leu Lobemato – semoga suatu saat nanti bisa menemukannya dalam proses penelitian lebih lanjut.
Peuobu’ adalah juga merupakan turunan dari Uyo Lewun. Beberapa narasumber menjelaskan bahwa dari Uyelewun, leluhur Peuobu’ menuju Leuwayan dan seterusnya bermigrasi ke arah Hobamatan dan tinggal bertetangga dengan orang Hobamatan. Mereka menetap di bawah sebuah pohon mangga sehingga kemudian menamakan kampungnya Peuobu’. Salah satu moyang mereka bernama Kudi’ Bareng. Saya juga belum menemukan naher leu Peuobu’ hingga hari ini.
Terakhir adalah Peuuma yang sebenarnya berasal dari Peuuma Bawalaleng bersaudara dengan suku Botungraba. Karena ada konflik internal, maka salah satu leluhur mereka bermigrasi pindah ke arah Hobamatan dan tinggal bertetangga dengan Peuobu’. Beberapa narasumber menjelaskan Peuuma kemudian bergabung dengan kampung Peuobu’ sehingga dinamakan Peuuma Obu’. Naher leu mereka tentu saja sama dengan orang Peuuma Bawalaleng.
Nah, dari lima kampung tersebut mau menjelaskan bahwa sebelum era kolonialisme (1903) terdapat 5 kampung yang berbeda dan tinggal pun berjauhan di atas tanah ulayat yang juga berbeda-beda. Mereka bukan lahir dari satu DNA moyang pencetus kampung walaupun dalam silsilah semua mereka dari Uyo Lewun.
Hobamatan Seteleh Kolonialisme
Ketika kapal buya’ Belanda masuk ke Kalikur tahun 1903, semua cerita tentang Hobamatan tiba-tiba berubah. Dari semua Rian Meker (kepala kampung tradisional), diketahui bahwa hanya Kole’ Kara Hobamatan yang memiliki sebatang gading yang disebut Bala U’el Buru’. Maka, kampung-kampung tetangga lainnya dalam bahaya karena tak punya gading. Berdasarkan hasil negosiasi para Rian Meker yakni Beni Boli Odelwala, Kole’ Kara Hobamatan, Ebeng Boli Lobemato, dan Pulang Payong Orolaleng (Pulang Payong Rian-untuk membedakan dengan Pulang Payong Utun), maka disiasati agar kampung-kampung yang tidak punya gading datang dan bergabung dengan Hobamatan agar selamat dari ancaman.
Catatannya kampung-kampung tersebut menyumbang gong sebagai ganti atas gading milik Kole’ Kara tersebut. Barnes menjelaskan bahwa selain 44 gading, ada juga 88 gong yang terkumpul. Maka cocok sudah dengan versi di Hobamatan. Sedangkan orang Lobemato secara khusus menyumbang aba keran rian – rantai emas.
Artinya, dasar kampung Hobamatan pada zaman kolonial merupakan one’ ude’ laleng hama. Sama-sama suka, sama-sama duka. Cerita ini mesti diwartakan agar penghuni kampung ini memetik inspirasi spiritualnya. Ada tiga orang kemudian diutus mengantar gading, gong dan aba keran rian ke Kalikur yakni Kole’ Kara Hobamatan (pemilik gading), Dato’ Matan Hobamatan (saudara dari Kole’ Kara) dan Haba Letu Lobemato (pemilik Aba Keran Rian). Setelah diantar, maka berdasarkan kesepakatan di Kalikur, Dato’ Matan diangkat jadi Rian Leu yang kemudian dilantik di Sagu, Adonara. Sedangkan orang Lobemato menjadi Tamukung Leu yakni Lawe Laba.
Setelah pelantikan, maka dilakukan syukuran dengan menyembelih seekor kambing betina berwarna merah (witing putu’) dengan tujuan supaya masing-masing kampung yang bergabung menjadi suku-suku di kemudian hari akan mengutus tua adatnya menjadi Rian Leu. Terbukti bahwa para Rian Leu datang dari tiga suku berbeda, kecuali Lobemato yang tetap menjadi Tamukung. Sementara itu, secara adat, suku Peuobu’ dan Peuuma tidak diperkenankan menjadi Rian Leu dan ini terbukti.
Pada tahun 1904, terjadilah perang di Hinga, Adonara. Kapitan Kedang mengundang bantuan masing-masing kampung 2 orang. Kampung Hobamatan pun mengutus dua panglimanya untuk pergi perang di Hinga yakni Matan Kata Odelwala dan Lewo Huraq Orolaleng.
Rian Leu Do’ Duli di Tanah Ite Laleng-Odel Leu Utun
Setelah jalan raya dibuka tahun 1930-an, Kapitan Kedang memerintahkan Rian Leu bersama warga untuk turun menghuni di sekitar jalan raya yang kemudian menjadi pusat Desa Mahal sekarang yakni Riangbao-Riangtuan. Sebelum mereka turun, di bagian duli atau Ero Wehe’ sudah dihuni oleh nenek moyang Odelwala yang meninggalkan bukti-bukti sebagaimana saya sebutkan di atas. Hal ini membuktikan bahwa sebelum Rian Leu do’ duli, orang Odelwala sudah menetap di Ero Wehe’ dan mengistilahkan kampungnya Odel Leu Rian (naren) dan Odel Leu Utun (binen). Walaupun demikian, karena banyak dari mereka tidak meninggalkan keturunan sehingga mereka mewariskan kepada turunan bungsu (Toda Todo) berupa Wei Lawan (untuk mengenang Timu Bou), Tua’ Wei (mengenang Raking Todo), Perung peu Bu’u dll.
Semua bukti fisik ini merupakan penegasan eksistensi Odelwala yang sudah sangat lama menetap di kampung ini baik di dataran tinggi maupun dataran rendah. Bahkan, pada zaman Kapitan Dia Sarabiti berkuasa, ia membangun kerja sama dengan Lele Laleng Odelwala sehingga orang Odel memberikannya sebuah hamparan tanah untuk dijadikan Obonghora.
Bahkan, saat ini lokasi pemukiman suku Odelwala terdapat di semua sudut kampung Hobamatan mulai dari La'akoba', Riangtuan, Riangwehe', Riangla'i, Riangbao sampai Kapo Laleng. Berbeda dengan suku-suku lain yang hanya tinggal berpusat pada satu sudut kampung. Artinya, Odelwala punya sesuatu yang berbeda dengan suku-suku lain.
Semua kisah di kampung baru bernama Hobamatan kemdudian berjalan normal tetapi pada tahun 1962 terjadilah sebuah dinamika yang menjadi akar konflik hingga hari ini. Mari kita kupas dengan kepala dingin.
1962, Akar Konflik yang tak Disadari
Setelah Orang Ite Laleng-Odel Leu Utun (pemilik ulayat di Desa Mahal Riangwehe’-Riangbao) bermigrasi, lahirlah dua versi untuk memperebutkan ulayat di Ero Wehe’. Suku Odelwala dengan dasar bahwa Ite Laleng merupakan saudari kandung yang diberi tempat oleh naren, maka ketika saudari pergi, harta pusaka berupa tanah ulayat kembali menjadi milik naren (Odelwala). Namun, versi berbeda datang dari kelompok suku lainnya yakni Hobamatan, Peuuma, Peuobu’ dan Orolaleng – sedangkan Lobemato adalah kelompok netral, sekali lagi netral!).
Empat suku tersebut mengklaim ulayat di kampung ini berstatus tak punya pemilik atau umen tope’ lama’ bao. Dengan dasar ini, pada tahun 1962 – ketika Leu Laleng Odelwala sedang fokus perkara tanah dengan Kapitan Mas Sarabiti – empat suku tersebut melakukan perundingan sepihak tanpa mengundang saudaranya dari Odelwala. Dalam penelusuran saya, ada beberapa leluhur yang hadir yakni Dula Dato’ (Rian Leu), Kiri Dato’, Pure’ Leu, Batan Letu dan Loli Laba. Mereka membagi tanah ulayat dengan rincian Riang Wehe’ milik Hobamatan, Riang La’i dibagi menjadi milik Orolaleng dan Peuuma dan Riangbao menjadi milik Peuobu’. Lantas di mana haknya Odelwala? Apakah lebih tepat pembagian ini disebut hanya sebagai konspirasi politik yang tidak adil di kampung ini?
Orang Odelwala yang sejak awal sama-sama membangun kampung justru tak diundang. Setelah perundingan, baru diundanglah Leu Laleng ke tempat perundingan dan kepadanya diberitahu bahwa tanah di Desa Mahal sudah dibagi dan Odel tidak punya hak – padahal Ite Laleng merupakan saudari kandung Odel. Maka terjadilah baku pukul dan pengeroyokan dan hasilnya salah satu leluhur kehilangan ibu jari atau ling inan tope’. Peristiwa inilah yang menjadi akar persoalan di kampung ini dengan dampak buruknya hingga sekarang. Jika akarnya dibongkar, maka dampaknya pasti menemukan solusinya yang pasti.
Setelah pembagian ini, suku Odelwala tetap kepala batu dengan dasarnya sebagai duli wala (pemilik ulayat). Maka, dalam setiap kematian, Odelwala bisa tikam tanah (bako’ awu’) di seluruh kampung ini. Sedangkan empat suku yang lain hanya berani tikam tanah sesuai pembagian tahun 1962. Mengapa Odelwala begitu berani bako’ awu’ dari Riangtuan sampai Riangbao padahal ia tak mendapat jatah pembagian ulayat tahun 1962? Orang yang paham adat Kedang pasti tahu jawabannya.
Beberapa tahun kemudian sekitar tahun 1965/1966, ada seorang tua adat di kampung ini yang terlibat dalam pengeroyokan terhadap Leu Laleng ditangkap dan dibawa ke Lewoleba untuk dipenggal kepalanya karena dituduh PKI. Namun, Leu Laleng yang pada tahun 1962 dikroyok justru pergi ke Lewoleba membantu tua adat tersebut dan meloloskannya pulang ke Hobamatan. Kurang baik apa coba Odelwala untuk kampung ini? Korban pengeroyokan begitu rela menyelamatkan orang yang menjadi pelaku pengeroyokan. Baik begini atau bagaimana lagi?
Perjuangan Odelwala Menjaga Tanah Kedang
Ini bukan tulisan narsisme tetapi ini adalah ungkapan fakta Sejarah yang jujur. Ini bukan bentuk kesombongan melainkan bentuk membela harga diri atas semua Sejarah perjuangan orang Odelwala yang mungkin sering digosip sebagai pendatang, perusuh, kaco-balo dan lain sebagainya. Sebagai turunan asli Baran Ai, saya menulis untuk membela diri dan meluruskan gosip orang yang kalah argumentasi dan hanya andalkan otot mayoritas.
Perjuangan Odelwala untuk menjaga kearifan lokal tanah Kedang berawal dari tahun 1961. Ketika Kapitan Mas ingin mengambil alih bekas-bekas tanah Obonghora milik para petani, maka Leu Laleng pemangku ulayat Hobamatan bersatu dengan rekan seperjuangan seperti Demong Boli, Kole’ Leu-Lapa Leu dan lainnya untuk melawan dan mempertahankan haknya. Mereka dibantu oleh para guru Katolik dan uskup Larantuka. Leu Laleng bahkan ditangkap oleh Polisi dan diikat tangannya keliling Kedang hingga ke Kalikur. Namun, konsistensi perjuangan bukan harga murah dalam diri Leu laleng; ia tetap tolak walaupun tangan diikat. Ini pertama.
Kedua, tahun 2007-2008, ketika Bupati Ande Manuk bersama PT Merukh ingin membuka proyek tambang di wilayah Wei Puhe, Desa Panama, lagi-lagi orang Odelwala dengan dasarnya yang kuat bukan karang-karang maju menggugat Bupati dan beberapa warga lokal di kampung tetangga yang mengklaim sebagai pemilik ulayat. Dari kampung Hobamatan dan Leuhapu hanya dua suku yang berani maju omong ulayat di hadapan orang Kedang – bukan di hadapan Kepala Desa! – yakni suku E’a Pu’en dari turunan Beni Hitong dan Odelwala dari turunan Baran Ai. E’a Pu’en diwakili oleh alm. Amin Aba dan Odelwala diwakili oleh Leonardus Leu Odel (sekarang 74 tahun).
Sangat konyol rasanya, orang Odelwala berani maju berjuang lawan Pemerintah padahal di lokasi Wei Puhe tak satu pun orang Odelwala yang punya kebun di situ. Namun, hanya atas dasar ulayat yang diberikan untuk kehidupan banyak orang, Odelwala tanpa dibayar pun maju berjuang dan melawan. Lantas, di mana suku-suku lain yang hari ini mengklaim diri sebagai pemilik ualyat? Di mana suku Lobemato waktu itu, yang hari ini mengklaim diri sebagai pemilik ulayat? Apakah suku-suku lain pernah maju omong ulayat di depan umum secara berani atau hanya berbicara di dalam kampung seperti sekarang?
Perjuangan orang Odelwala tidak berhenti, ada tiga tua adat Odel diutus ke Lewoleba dan menggugat langsung Bupati Lembata yakni Stephanus Matur Odel, Alm. Mikael Sabon Odel dan Leonardus Leu Odel. Surat gugatan orang Odel ini ditandatangani oleh beberapa orang termasuk Emanuel Ubu’ (Ketua Barak Satu) yang kini menjadi DPRD Lembata.
Apalagi yang kurang dari perjuangan Odel sehingga hari ini digosip macam-macam? Odel berjuang bukan untuk dirinya melainkan untuk kehidupan orang lain. Sebab demikianlah pemilik ulayat; ia bukan feodal, ia bukan orang sombong melainkan ia penjaga tanah dan penjaga kehidupan banyakk orang. Ketika Anda melawan, ia pasti bangkit menantang dan tepat di sini Anda jangan baper!
2002, Odelwala Sumpah Makan Tanah
Saya harus tulis ini untuk membuka kesadaran orang Hobamatan supaya mampu membaca sejarah. Tahun 2002, konflik pribadi antara Tuaq Laleng Odel dan Leu Batan Orolaleng dengan sengketa di kampung lama digiring oleh para provokator kampung supaya diadakan sumpah makan tanah. Odelwala yang adalah suku kecil berani maju dan siap makan tanah disaksikan oleh ratusan orang baik di dalam kampung maupun yang datang dari luar kampung. Hasilnya, silahkan tanyakan pada orang Odel dan Orolaleng tentang hasil dari sumpah makan tanah. Pada akhirnya tahun 2008 diadakan perdamaian, ehe’ pe’ bela kame setelah tiga kali orangtua Odelwala menolak berdamai. Namun, karena pertimbangan kemanusiaan, maka Odelwala setuju.
Lantas, mengapa konflik hari ini yang hanya melibatkan dua suku yakni Odelwala dan Lobemato, suku-suku lain pun menghindar secara sosial dengan Odelwala? Apakah sejarah di kampung ini belum pernah memberikan penegasan tentang begitu baiknya orang Odel yang dikhianati ulang-ulang tetapi memberi ruang untuk berdamai? Apakah sejarah makan tanah dll belum cukup menjelaskan eksistensi Odelwala di kampung ini sebagai orang yang punya dasar?
Dua tahun lalu, karena salah bahasa dua pribadi, Odelwala marah. Ia yang diam tapi diganggu, pasti ia bangkit marah. Jadi orang Kedang di kampung lain harus paham, konflik ulayat di Hobamatan tahun 2024 sampai sekarang itu dasarnya karena Odelwala diganggu bukan Odel yang mengganggu. Bisa paham ya! Dari salah bahasa antarpribadi digiring menjadi antar kelompok suku. Orang yang diundang datang bukan untuk menyelesaikan persoalan justru hadir dalam kondisi mabuk dan merusak suasana.
Suku Lobemato pun mengklaim diri sebagai pemilik ulayat tapi sama sekali tidak menjelaskan nama tanah ulayat yang disengketakan. Salah satu tua adat Lobemato bilang bahwa “kepala kerbau dia berani makan tetapi mengapa ketika Odelwala minta supaya makan ayam (ka manu’ wutu’) tua adat Lobemato yang begitu berani tadi menolak?” Ada apa? Bahkan di hadapan Ibu Kakan Pertanahan Lewoleba, Odelwala minta supaya semua suku yang ikut-ikutan mendukung Lobemato supaya sama-sama makan tanah melawan Odelwala tetapi semuanya tolak secara serentak seperti suara koor paduan suara di gereja. Ada apa?
Konflik ini harus diselesaikan dengan jujur dan sportif. Kalau tidak tahu akui bahwa tidak tahu bukan memprovokasi massa dan merusak iklim sosial di kampung ini. Sejarah Odelwala jelas adalah Sejarah perjuangan bukan asal omong; ada Sejarah, ada bukti dan siap makan tanah bukan main-main. Odelwala berkali-kali diinjak tetapi hatinya tetap teduh, ia marah tapi tetap sadar. Orang yang mau kampung ini berdamai kembali, mari kita diskusi cari jalan keluar jangan andalkan sistim kroyok seperti tahun 1962.
Penutup
Ulayat Odelwala bukan harta yang perlu dipamerkan tetapi harga diri yang perlu dijaga. Odelwala tidak butuh pengakuan negara maupun suku-suku tetapi tetap konsisten berdiri di atas kebenaran. Siapa yang duluan ganggu, maka ia harus bertanggungjawab. Sejarah sudah membuktikan perjuangan Odelwala menjaga tanah Kedang dan tanah Hobamatan. Odelwala diplesetkan sejarahnya sebagai pendatang dari Munaseli – padahal justru leluhur Odelwala Lako dan Bori yang diundang membantu Pandai melawan Munaseli; Sejarah ini sengaja dihilangkan sejak tahun 1960-an. Plesetan Sejarah ini hal yang wajar sebab tradisi tutur sangat membias. Namun, ruang pendidikan modern menjamin adanya penelitian yang lebih akurat tentang kisah-kisah lisan leluhur.
Saya berani menulis ini bukan untuk membenci siapa-siapa tetapi untuk membela diri dan meluruskan gosip liar seolah-olah Odelwala adalah pendatang, pengaco, perusak dll. Untuk orang Hobamatan, Mahal, yang punya versi berbeda silahkan berikan komentar sejuk untuk kita diskusi saling melengkapi.
(Oleh Antonius Rian, Penulis Buku Pancasila, Budaya
Kedang dan Milenial)

Post a Comment for "Membela Suku Odelwala dalam Konflik Ulayat Internal di Kampung Hobamatan"
Komentar