Guru Yahya 14 Tahun Mengabdi di MIS Al-Munirah Mahal
Orangtimur - Dari MIS Labala, ia berpidah ke arah timur Lembata. Tepat 1 Agustus 1993, Guru Yahya Zakaria mendapat SK untuk mengabdi menjadi Kepala Sekolah MIS Al-Munirah Mahal di Desa Mahal, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, NTT. Hal yang mengejutkan baginya sebab ia merupakan seorang guru bantu di Labala. Namun, Pemerintah Flores Timur melalui Depatemen P dan K mengundangnya ke Larantuka sekaligus membawa kabar gembira; ia dipindahkan ke Kedang untuk menjabat sebagai Kepala Sekolah.
Tahun 1993, Kedang merupakan sebuah tempat asing baginya. Yang paling tenar di telinganya kala itu yakni nama Balauring, Ibu Kota Kecamatan Omesuri. Sedangkan nama Hobamatan dan Mahal begitu sangat asing. Ada yang sengaja menyebarkan isu liar bahwa “orang Mahal itu keras-keras.”
“Teman saya bilang orang Mahal itu keras-keras, tapi saya bilang selama kita baik dengan orang, mereka akan lebih baik lagi dengan kita,” kenangnya saat dihubungi di kediamannya, Desa Tagawiti, Jumad 4 September 2026. Walaupun mendapat SK 1 Agustus 1993, ia baru mulai mengabdi secara resmi pada akhir September 1993.
Menumpang sebuah oto (truk) Lewoleba-Kedang, guru Yahya bersama istri dan salah seorang putrinya, Ela, menuju Mahal, Kedang. Di dalam oto tersebut, ia berkenalan dengan orang Mahal bernama Ahmad Kata yang waktu itu berbisnis gong. Sampai di Mahal, ia turun di rumah Ahmad Kata dan kepada warga setempat, ia mulai diperkenalkan sebagai Kepala Sekolah baru untuk MIS Mahal.
Guru Yahya menjelaskan bahwa saat tiba di Mahal, tidak ada rumah guru yang disiapkan baginya dan keluarga. Oleh karena itu, ia menghubungi Ketua BP3 (Komite), H. Dula Leba agar bisa menyiapkan sebuah rumah sederhana baginya dan keluarga.
Lantaran waktu itu, ada satu ruang kelas yang tak terpakai, maka berdasarkan keputusan BP3, guru Yahya bersama istri dan anak untuk sementara menggunakan sebuah ruang kelas sebagai rumah – sambil menanti sekolah menyiapkan sebuah rumah guru. Walaupun demikian, ia merasa betah dan nyaman. Sebab motivasinya menjadi guru bukan sesuatu yang instan. Dari guru bantu menjadi Kepala Sekolah adalah bukti bahwa ia punya kompetensi menjadi seorang guru. Pada 1 Oktober 1993, ia mulai masuk ke ruang guru dan ruang kelas.
Satu hal yang tak ia lupakan adalah MIS Mahal kekurangan buku-buku Mata Pelajaran. Selain itu, surat-surat resmi lain seperti laporan bulanan pun terbengkalai bahkan bisa dikatakan tidak ada. Semua persoalan ini segera ia bereskan.
Mengetahui hal demikian, guru Yahya terdorong untuk mencari Solusi. Ia pergi ke SDK Hobamatan untuk menemui Kepala Sekolah, Stephanus Matur Odel. Dari situ lahirlah diskusi dan kerja sama untuk masa depan Pendidikan di Desa Mahal. Kerja sama ini diketahui sebelum-sebelumnya tak pernah terjalin. Kepada Stephanus Matur Odel, Guru Yahya meminta bantuan buku-buku Mapel untuk bisa dipinjamkan kepada MIS Mahal. Hal lainnya, guru yahya juga mendesak anak-anak MIS Mahal untuk harus berkompetisi dengan sekolah-sekolah lain melalui lomba Mapel. Keikutsertaan pertama dalam kegiatan lomba antarsekolah tidak membuahkan hasil yang baik.
Dari 11 sekolah yang mengikuti lomba di SDI Walangsawa, MIS Mahal mendapat juara terakhir yakni 11. Walaupun demikian, ia tak putus asa. Sebagai pimpinan sekolah, ia tetap memberikan semangat kepada anak-anak dan para rekan guru. Tahun berikutnya diadakan lomba di Leuhoe dan MIS Mahal mendapat juara 4 dari sekitar 20 sekolah yang berpartisipasi. Dari hasil ini, guru Yahya merasa senang dan terus berpacu mambawa perubahan yang lebih baik untuk MIS Mahal.
Beberapa tahun kemudian, MIS Mahal mengalami kekurangan guru; ada yang merantau, ada pula yang ijasanya tak memungkinkan. Menimbang persoalan ini, guru Yahya, di hadapan para guru dengan berani meminta mereka untuk mencari guru-guru dengan latar belakang non-muslim atau Katolik. Guru Hasan Rusdi pun angkat tangan dan menyampaikan bahwa di kampungnya ada dua orang guru yang siap didatangkan ke MIS Mahal yakni Ibu Siska dan Maria. Kepada Ibu Siska ditugaskan menjadi Wali Kelas 5 dan guru Kesenian. Sedangkan Maria Wali Kelas 3, Hasan Rusdi Wali Kelas 4, Syamsudin Daud guru Kelas 6 – ia sekaligus menjabat sebagai Sekretaris Desa Mahal.
Tujuan menugaskan ibu Siska menjadi guru Kesenian agar bisa mendidik anak-anak MIS Mahal berpaduan suara khususnya baca not. Hasilnya pun terbukti. Ketika ada kegiatan di Desa Leuwayan, MIS Mahal tampil di panggung Paduan Suara dan meraih juara 3.
Nah, Dari pengalaman pengabdian ini, guru Yahya layak sekali disebut sebagai sang pembaharu di MIS Mahal. Pengabdiannya selama 14 tahun meninggalkan jejak-jejak perubahan pada Llembaga sekolah dasar berbasis Islam tersebut. Tepat 1 Juli 2007, ia dinyatakan pensiun menjadi seorang guru. Rasa sedih mulai berkecamuk, sebab sebentar lagi pengalaman kebersamaan di Desa Mahal akan tinggal kenangan. Teman dekat, keluarga, rekan guru, senyum anak-anak sekolah akan ia tinggalkan di Mahal, dan bersama keluarga, guru Yahya akan pulang ke kampungnya di Desa Tagawiti untuk menikmati masa pensiun.
Ada banyak kisah lain yang tak tercatat; misalnya kenangan menonton televisi di rumah guru Yahya dengan syarat-syarat tertentu – soal ini kita tunggu orang Mahal kasih bocoran lewat kolom komentar saja, hehe. Tahun 2007, menjadi akhir dari semua kisah pengabdiannya, ia kembali ke Ileape diantar oleh beberapa rekan dari Mahal. Kini, guru Yahya menikmati masa jomponya. Ketika mewawancarainya, diketahui, saat ini, ia sudah berusia 79 tahun. Tongkat kepemimpinan selanjutnya ia serahkan kepada guru Hermanto.
Dari Tagawiti, ia berpesan agar MIS Mahal tetap
menjaga kualitas dan menghindarkan diri dari konflik-konflik internal yang
membuat Pendidikan di sekolah ini menjadi kehilangan arahnya. Terimakasih bapak
Guru Yahya sudah meninggalkan jejak bermakna untuk MIS Mahal. (Antonius Rian)

Post a Comment for "Guru Yahya 14 Tahun Mengabdi di MIS Al-Munirah Mahal"
Komentar