Sayin Talu Wula Lahar Loyo, Teologi Natural Orang Kedang
Orangtimur - Tulisan ini mengambil rujukan utama pada hasil penelitian Yohanes Tehe yang dirangkum dalam sebuah tulisan singkat tentang Penghayatan Edang Wela. Menurut penelitian tersebut, peradaban orang Kedang – atedi’en Edang – awal mula di puncak gunung Uyelewun dikenal dengan Nome Hering Tapi Hala’. Di tempat ini, para leluhur belum mengenal makna dari hidup sosial yang harmonis. Artinya, mereka sangat primitif. Para leluhur mulai mengalami konflik horizontal, saling rebut dan lain sebagainya.
Namun, pada periode berikutnya, para leluhur mulai membangun refleksi rasional bahwa konflik berkepanjangan tidak akan melahirkan keharmonisan. Maka, menurut Yohanes Tehe sebagaimana tertera dalam penelitiannya, setelah Nome Hering Tapi Hala’ dilanjutkan dengan periode Awu’ Edang (Penentuan ulayat komunal Edang), selanjutnya Wela (agama asli Edang) dan setelahnya adalah Sayin Talu Wula Lahar Loyo dan masih ada beberapa tahapan berikutnya.
Kita coba melihat makna dari Sayin Talu Wula Lahar Loyo. Di sini sebenarnya ada refleksi yang dibangun oleh para leluhur tentang bagaiman menyelesaikan sebuah konflik panjang – hukum rimba. Manusia menyadari bahwa konflik tak bisa diselesaikan hanya oleh manusia semata melainkan mesti memohon intervensi atau campur tangan Wujud Tertinggi – selanjutnya Tuhan. Artinya, tepat di sini, para leluhur Kedang di puncak Uyelewun sudah merefleksikan dan memahmai bahwa di luar diri mereka ada kekuatan yang lebih besar atau paling tinggi sebagai sumber moral yakni Tuhan tanpa menunggu Wahyu melalui para Nabi.
Hasil perjumpaan ini kemudian disadari melalui periode Sayin Talu Wula Lahar Loyo, sebuah Teologi Natural. Secara harafiah, Yohanes Tehe menggambarkan bahwa sayin (janji) ini menghubungkan relasi manusia dengan Tuhan. Wula Loyo adalah gambaran tentang Tuhan yang maha luas dan tinggi. Sedangkan Talu dan Lahar adalah dua orang anak dari Wujud Tertinggi. Tuhan Wula (bulan) mengutus anaknya Talu dan Loyo mengutus anaknya Lahar untuk dikurbankan dalam ritus sayin bayan pemulihan atas konflik yang dialami oleh manusia.
Ini adalah satu bentuk kesadaran manusia tentang Tuhan yang begitu baik dan tidak meninggalkan manusia sendirian dilanda persoalan konflik yang besar. Konsep ketuhanan model ini mesti dikaji lebih dalam oleh orang-orang yang punya basis pengetahuan relevan. Selain itu, Sayin Talu Wula Lahar Loyo tentu saja tidak boleh dibaca secara harafiah tetapi didalami maknanya yang paling rasional.
Ritus Sayin Talu Wula Lahar Loyo dapat dilihat sebagai bentuk relasi intim manusia dengan Tuhan. Yang Maha Tinggi tidak digambarkan sebagai yang jauh tetapi yang jauh sekaligus dekat. Ia jauh sebagai Wula dan Loyo tetapi tetap dekat sebagai Talu dan Lahar – apakah ini kemudian berkaitan dengan puting talu dan ahar atau talu beru? – bahkan sebagai makanan untuk dikonsumsi oleh manusia. Dengan demikian, jelas, nenek moyang orang Kedang sebelum datangnya Islam dan Kristen, sudah memiliki agama sendiri yang sangat sakral. Ajaran-ajaran agama Wela tidak boleh dilanggar karena ada sumpah (sayin bayan) mengurbankan “anak-anak Tuhan”.
Mengapa menggunakan frasa metaforis “anak-anak Tuhan”? Ya, maknanya sekali lagi mau menggambarkan keintiman atau kedekatan Tuhan dengan manusia. Tuhan tidak jauh, ia dekat bahkan sangat mengasihi manusia melalui Sayin Talu Wula Lahar Loyo yang merupakan sebuah doa atau perayaan keagamaan tradisional di puncak gunung Uyelewun. Maknanya sangat sakral dan ajarannya tidak boleh dilanggar.
Setelah
sayin ini, maka lahir pula tatanan baru, ada etika, hukum dan lain sebagainya
yang membentuk manusia untuk mengenal moral, kehidupan sosial harmonis, hukum
kausalitas dan seterusnya. (Antonius Rian)

Post a Comment for "Sayin Talu Wula Lahar Loyo, Teologi Natural Orang Kedang"
Komentar