Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Markus dan Pengalaman Hidup sebagai Fotografer di Lembata

 



Orangtimur - Markus Kara (66), demikian ia disapa; asal dari kampung Leudanung tetapi sudah lama pindah penduduk dan menetap di kampung Weilolon, Desa Wailolong, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, NTT. Dengan kondisi fisik yang tidak memungkinkannya untuk bekerja memikul barang-barang berat, Markus kemudian duduk merenung. Apa pekerjaan yang cocok baginya? Ada tiga cita-cita yang terlintas dalam pikirannya yakni sebagai Penjahit, Pedagang dan Fotografer.

Kerinduan tersebut, kemudian ia wujudkan; pernah menjadi penjahit sesaat, lalu berhenti. Pada sekitar tahun 1970-an, ia memutuskan untuk menjadi pedagang. Luar biasanya ia berdagang sampai ke Kalabahi, Ibu Kota Kabupaten Alor. Ia bekerja sama dengan banyak pihak, termasuk salah satunya Haji Kabir asal dari Kalikur. Bersama Haji Kadir, Markus dipercaya untuk mulai menjual Mehar – alat penggiling jagung tradisional – ke tanah Kalabahi. Selain jual Mehar, ia juga menjual sabun, rokok dan lain sebagainya – biasanya barang-barang ini juga ia harus ambil di Waiwerang, Adonara.

Menumpang kapal motor dari Pelabuhan Weirian menuju Kalabahi bukan sesuatu yang gampang. Tantangan silih berganti menghandang niat Markus Kara untuk berpetualang mewujudkan mimpinya menjadi seorang pedagang. Namun, pada sekitar awal tahun 1980-an, niat berbeda mulai terbayang; ia ingin menekuni dunia fotografi.

 

Cerita ini berawal dari peristiwa barter di sebuah pasar di kota Kalabahi; ia menukar sebuah Mehar dengan Kamera. Hal ini, ia lakukan sebab ada niat yang begitu kuat untuk menjadi fotografer. Dari situlah, konsistensi mulai diuji. Mula-mula ia belajar pada Goris Holo asal Loyobohor yang punya ilmu Fotografi.

Tak lama berselang, ia memutuskan ke Lewoleba, belajar pada Baba Siu selama kurang lebih 10 tahun. Bersama Baba Siu, ia belajar tentang cara cuci cetak manual. Menurutnya, bekerja sebagai Fotografer tahun 1980-an tidak mudah; barang-barang kebutuhan Fotografi didatangkan dari luar negeri seperti China, Jepang dan Amerika. Untuk mendapatkan perlengkapan tersebut, sudah pasti ia harus merogoh dompet. Bahkan kertas untuk satu dos, bisa menghabiskan anggaran hingga dua juta rupiah.

Setelah merasa cukup untuk belajar pada Baba Siu, ia mulau meniti karir secara mandiri – terekam mulai tahun 1986. Saban hari, Markus harus berjalan kaki keliling gunung Uyelewun untuk melayani warga di dua Kecamatan yakni Omesuri dan Buyasuri. Bahkan, untuk tempat yang jauh seperti Bean sampai Wowon, Hule dan Atanila, ia harus menunggang kuda miliknya melintasi jalur penuh batu di wilayah Selatan Kedang. Mengunjungi kampung yang jauh, Markus seringkali memutuskan untuk bermalam.

Mengapa ia begitu konsisten menjalankan tuganya sebagai Fotografer? Hanya ada satu jawaban “jaga kepercayaan orang,” tegasnya. Hanya dengan menjaga kepercayaan orang, rezeki bisa mengalir. Sebab menurut Markus, satu kali saja mengingkari janji, maka disitulah cita-cita menjadi Fotografer bisa hilang selamanya. Ia menjelaskan bahwa pada tahun 80-an, satu lembar foto dihargai dengan biaya Rp. 500; kemudian untuk foto berwarna – bukan hitam putih – pernah dihargai dengan satu lembar seribu rupiah.

Apakah ia sudah berhenti menjadi Fotografer? Belum! Sampai hari ini, walaupun dengan umur yang semakin menua, semangat melayani orang masih saja bertumbuh. Ia masih berlangganan dengan sekolah-sekolah di Lembata baik di Kedang maupun di tempat lain seperti misalnya SD 2 Waikomo. Ia menjelaskan bahwa banyak pelanggan masih menjalin hubungan setia dengannya karena mereka merasa puas dengan hasil foto bapa Markus – warna tidak cepat pudar atau bertahan lama. Kalau kita cari tahu secara menyeluruh, mungkin semua sekolah di Kedang pada zaman tertentu menggunakan jasa foto dari Markus Kara – termasuk penulis, saya.

Hidup Jujur dan Bencana Seroja

Ada beberapa orang yang menjadi “guru” dan turut mendukung pekerjaan Markus Kara yakni Haji Kabir asal Kalikur, baba Hi, Baba Kolim, Baba Siu dan Goris Holo juga masih banyak yang tak terekam dalam tulisan ini. Belajar bersama orang keturunan Tionghoa, menurut Markus hanya satu yang harus dijaga yakni ‘jujur’.

“Kalau mau sukses dengan mereka, harus jujur, satu kali saja kau tidak jujur, mereka tidak akan percaya kau lagi,” kata Markus dengan penuh percaya diri. Melalui pengalaman hidup yang menantang, ia berpesan kepada Fotografer muda agar tetap tekun, konsisten, jujur dan yang paling penting yakni menjaga kepercayaan orang.

Selain kisah sukses, Markus juga dilanda kisah memprihatinkan. Dari hasil Fotografi, ia membeli beberapa lahan di kampung Weilolon dan menanam ratusan pohon kelapa dan pisang. Namun, bencana Seroja datang dengan amat ganas pada tahun 2021. Bencana itu telah merusak mimpi Markus di atas lahan yang ia siapkan untuk masa depan anak cucu.

Ratusan pohon kelapa hilang ditimbun longsor batu. Selain itu, ada empat album besar yang berisi senyum orang Kedang pada zaman dulu pun ikut terkubur banjir dan longsor. Seroja menghilangkan jejak mereka yang pernah menggunakan jasa Markus. Empat albun besar hilang!

Kisahnya masih panjang tetapi matahari di sudut barat jauh sudah mulai hilang perlahan. Saya yang masih asyik mendengar cerita Markus Kara pada Selasa (4/8/2026) di pelataran rumahnya di Wailolong harus pamit pulang ke Desa Mahal. Sebelum pulang, Markus Kara menyuguhkan arak, minuman lokal untuk menyalakan mata saya agar tidak rabun berkendaraan pada malam hari, heheh.

(Antonius Rian-tulisan ini juga sudah tayang di FB Pro Mata Lokal Ntt).

Post a Comment for "Markus dan Pengalaman Hidup sebagai Fotografer di Lembata "