Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mengenal Sosok Lawe Sarabiti, Penentang Belanda di Tanah Kedang

 


 

Orangtimur - Nama Lawe Sarabiti, seorang Rian Bara’ – pemimpin lokal di tanah Kedang – patut dikisahkan kembali kepada anak cucu. Sosok ini, mungkin dalam cerita lokal jarang disebut namanya.  Belum diketahui, sejak kapan ia menjadi Rian Bara’ di tanah Kedang. Namun, kalau merujuk pada artikel yang ditulis oleh Barnes, ia menjadi Rian Bara’ setelah eranya Musa Sarabiti.

Bisa dipastikan, masa akhir kepemimpinan Lawe Sarabiti pada tahun 1903 setelah datangnya pasukan Raja Arakian Kamba dari Sagu bersama Belanda menggunakan dua kapal perang. Anda bisa bayangkan betapa kuatnya Lawe Sarabiti sehingga Belanda harus datang menggunakan dua kapal perang sekaligus. Dalam cerita lokal, orang Kedang mengenal kapal tersebut Bernama kapal buya’ – kapal putih.

Tulisan ini merujuk pada cerita lokal, artikel yang ditulis oleh  Barnes dan sedikit tambahan dari buku Chut Nyak Din, Kisah Ratu Perang Aceh ditulis oleh M.H. Skelely Lulofs. Pada masa Lawe Sarabiti, tanah Kedang dikenal berdiri sendiri, tanpa pajak bumi dan bangunan, hehe dan tanpa memihak kiri maupun  kanan. Kedang beridiri sendiri. Lawe Sarabiti dikenal punya pasukan peran* yang sangat kuat.

Dalam artikel yang ditulis Barnes, raja Arakian Kamba dari Sagu ingin berekspansi ke wilayah Kedang dan ingin menaklukan Lawe Sarabiti di Kalikur. Niatnya ini dilakukan dengan membawa pasukan peran* dari Adonara dan Lewotolok. Singkat cerita, pertempuran pun dilakukan. Pasukan Lawe Sarabiti berhasil memukul mundur pasukan Lewotolok dan Adonara setelah kepala peran* mereka Bernama Subang Sugi tewas terbunuh. Banyak pasukan lainnya pun dikisahkan mundur dan ada yang jatuh di Liang Buya’. Menggunakan kapal Cangkir Mas, Arakian Kamba akhirnya mundur dan pulang ke Sagu, Adonara.

Pada tahun 1903, secara diam-diam, Arakian Kamba meminta bantuan Belanda untuk menakhlukan Lawe Sarabiti. Pasukan pun datang ke Kalikur dengan menggunakan dua kapal yakni Prins Hendrik dan Bengkulen – Prins Hendrik merupakan kapal perang Belanda yang didatangkan pertama kali ke Aceh pada tahun 1856 untuk mengancam Sultan Alaiddin Mansyur Syah. Cerita ini tepat sekali dengan kisah tutur Kedang tentang kapal buya’.

Orang Kedang menceritakan bahwa kapal buya’ merupakan ancaman dari pihak Belanda kepada warga lokal agar segera menyerahkan sebatang gading. Kisah inilah yang kemudian menjadi awal mula terbentuknya persatuan 44 kampung dan lahirnya Kepala Kampung (Rian Leu)  pada 1903 – jika tak ada kapal buya’ dan penyerahan gading, maka hari ini kita mungkin masih tinggal di kampung lama masing-masing dengan jumlah kampung di atas jumlah 44.

Lantaran sulit melawan pasukan elit Belanda yang bersenjata lengkap, Lawe Sarabiti, demi harga dirinya, ia akhirnya melepaskan jabatannya sebagai Rian Bara’. Kisah tentang kekuasaan di Kedang pun mulai mengalami perubahan setelah masuknya campur tangan raja Arakian Kamba dan pasukan Belanda. Dari peristiwa ini, ada beberapa hal yang wajib kita pertanyakan. 

Mengapa untuk melawan Lawe Sarabiti dan pasukannya, Belanda harus mendatangkan dua kapal sekaligus – apalagi Prins Hendrik merupakan kapal perang elit Belanda? Sudah pasti, hal ini berarti pasukan Lawe Sarabiti waktu itu sudah sangat kuat dan sulit ditakhlukkan. Namun, karena Belanda yang datang begitu banyak dengan senjata lengkap, Lawe terpaksa lengser dan bersama beberapa orang harus dipenjarakan di Kupang.

Kisah ini juga mau mengajarkan kita tentang pentingnya konsistensi. Mampukan kita belajar pada Lawe Sarabiti, melawan penindasan tanpa kompromi? Melepaskan jabatan demi sebuah nilai dan tidak menyembah pada kolonialisme adalah nilai yang patut kita wariskan dari Lawe Sarabiti, seorang sosok yang patut dikenang karena menentang kolonialisme. (Antonius Rian)

Post a Comment for "Mengenal Sosok Lawe Sarabiti, Penentang Belanda di Tanah Kedang"