Guru Sinu dan Sarabiti Musa Inspirasi Persahabatan Islam dan Katolik di Tanah Kedang
Orangtimur - Pertanyaan yang paling penting sebagai
pintu depan tulisan ini yakni, mengapa Katolik berkembang sangat cepat di
Kedang padahal ajarannya baru masuk tahun 1925? Sementara itu, Islam sudah
masuk di Kalikur – diperkirakan sekitar tahun 1700-an atau 1800-an – juga versi
tersendiri datang dari kampung Dolulolong – mari kita mencari tahu lagi. Yang
pasti, di Kedang, agama Islam lebih dulu masuk. Namun, untuk konteks di
Kalikur, Islam sangat berpusat pada kampungnya Rian Bara’ atau Kalikursentris.
Oke, tulisan ini coba mengajak kita semua untuk secara
jernih membaca kembali Sejarah kemudian berusaha memetik pesan inspiratif untuk
hidup beragama kita pada konteks hari ini. Sebagaimana ulasan saya sebelumnya,
kedatangan guru Sinu da Proma pada tahun 1925 diterima baik oleh Rian Bara’
Sarabiti Musa sebagai pemimpin 44 kampung di Kedang. Karena itu, sudah pasti,
ajaran agama Katolik yang dibawa masuk Kedang, wajib mendapat restu dari
pemimpin wilayah. Artinya, pertanyaan pembuka di atas sudah terjawab; Katolik
berkembang cepat juga tentu saja karena mendapat restu atau dukungan dari Rian
Bara’ Sarabiti Musa (kubur buya’).
Manuskrip yang ditulis oleh guru Alo Rupa menjelaskan
hal demikian. Rian Bara’ Sarabiti Musa – yang mulai memimpin tahun 1903 sampai
1936 – mengutus dua orang untuk menerima guru Sinu di Bu’laleng. Bahkan ada
sebuah kesepakatan yang dibangun antara dua tokoh ini sebagaimana yang
dijelaskan Alo Rupa dalam Manuskrip dimaksud sebagai berikut:
Rian Bara’ berkata kepada guru Sinu: “O dau puaq mo ote wela. O ana’ sarani roman, o ayar mo agama’ sarani ote dau wela. So be e, e ataq naq, iselang waq tawang, e puaq ke ole bunuq wata, ayar ke agama Islam ole Wata.”
Inspirasi Persahabatan Islam dan Katolik
Hari ini kita bangga bicara tentang toleransi
antar-agama di Kedang. Ya betul sekali. Toleransi adalah warisan kearifan
lokal, warisan Sejarah yang terpancar melalui jabatan tangan antara Sarabiti
Musa sebagai pemimpin wilayah Kedang sekaligus tokoh Islam dan guru Sinu dari
Katolik.
Kita belajar bahwa relasi dua tokoh tersebut
sesungguhnya melahirkan nilai toleransi yang mesti menjadi inspirasi untuk
generasi hari ini. Bayangkan saja, jika pemimpin wilayah yang beragama Islam
merongrong atau tidak merestui hadirnya agama Katolik, bisa jadi Sejarah dan
fakta hari ini berbeda.
Relasi Sarabiti Musa dengan Katolik, kalau kita mundur
jauh ke belakang sesungguhnya sudah terlihat ketika Sekolah Rakyat di Kekar
dibangun oleh misionaris Katolik. Sudah
pasti bahwa misionaris pernah membangun kesepakatan dengan Sarabiti Musa ketika
hendak mendirikan sebuah sekolah. Artinya, soal agama, toleransi dan saling
menghargai adalah harga mati.
Guru Sinu dan Sarabiti Musa, sama-sama memahami bahwa
iman setiap orang tidak boleh diganggu atau dipaksa. Saling menghargai harus
menjadi jalan tengah untuk membangun toleransi dalam beragama. Dan hal ini
sudah dilakukan oleh Rian Bara’ Sarabiti Musa dan guru Sinu pada tahun 1925.
Post a Comment for "Guru Sinu dan Sarabiti Musa Inspirasi Persahabatan Islam dan Katolik di Tanah Kedang"
Komentar