Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pesta Nikah yang Menyatukan, Tawuran Remaja di Kedang dan Wadah OMK

 

Foto ilustrasi AI


 

OrangTimur - Mengapa kita selalu merayakan pernikahan melalui pesta? Apakah kita pernah berpikir tentang nilai dari sebuah pesta? Tulisan ini tidak membahas tentang  kalkulasi ekonomi di balik pesta nikah tetapi nilai intrinsik yang mesti dilihat bersama. Sudah menjadi sebuah budaya yang diterima luas di Kedang bahwa pernikahan mesti dirayakan. Bunyi gong gendang dan tarian merupakan bentuk kegembiraan keluarga. Kegembiraan ini tidak bermakna sesaat, ia punya roh yang tetap hidup walaupun pesta nikahnya sudah berakhir.

Gereja Katolik maupun budaya Kedang menegaskan perkawinan dua insan merupakan juga penyatuan dua keluarga besar. Maka, selain menerima sakramen perkawinan di dalam gedung gereja, kita juga merayakan dengan versi budaya lokal, salah satunya berpesta bersama. Artinya, dua insan telah menyatukan dua keluarga besar bahkan lebih luas dari itu. 

Namun, sering kita lupa makna sejati dari pesta nikah. Kita mungkin berpikir bahwa pesta nikah adalah momen hedonistik semata. Kita berjoget ria bahkan tuan rumah menyiapkan minuman “enak” untuk kaum laki-laki. Kita minum dan joget lalu selesai. Padahal, tidak sebatas itu, pesta nikah adalah momen kebersamaan, kita menyatukan rasa bahagia bersama dua insan.

Alpanya pemahaman kita tentang makna pesta nikah, maka yang terjadi adalah tawuran antarremaja yang merusak nilai kebersaman dalam momen tersebut. Momen bahagia diubah menjadi kesempatan balas dendam antarremaja kampung. Pihak kepolisianpun harus menguras tenaganya untuk menjaga suasana pesta nikah. Namun seringkali tawuran tetap terjadi tanpa menghiraukan pihak keamanan yang harus memaksa mata untuk tetap menyala sepanjang malam.

Baru-baru ini, di Kedang masih saja terjadi tawuran. Para pelaku adalah remaja yang masih menganggap memukul orang adalah prestasi luar biasa. Mereka saling menjaga dan saling melempar. Ada yang harus bersimbah darah, muka bengkak dan lain-lain. Tawuran rutin ini sebenarnya menampilkan wajah memalukan di Kedang. 

Sudah 2026 tetapi masih ada anak muda Kedang yang hidup dalam rutinitas tawuran setiap kali ada pesta. Mengapa kaum remaja kita masih sering tawuran? Bukankah joget bersama adalah momen bahagia dan justru di situlah remaja harus mengekspresikan diri? Fakta sebaliknya, ekspresi kaum remaja kita adalah kebiasaan kotor yang bahkan bisa mengorbankan nyawa manusia yakni tawuran.

Apakah ada Jalan?

Pihak keamanan maupun pemerintah telah mencari jalan keluar. Namun, sampai saat ini, aksi tawuran antarremaja kampung masih terjadi. Solusinyapun monoton, biasanya selalu dibawa ke kantor polisi lalu selesai. Padahal ada juga alternatif solutif. Ada kampung tertentu yang sudah mencari jalan keluar melalui kearifan lokal Kedang – mungkin ini cukup berhasil. 

Namun, ada  hal yang mesti kita pikirkan bersama yakni pembentukan karakter remaja melalui organisasi-organisasi anak muda yang ada di Kedang. Sebut saja misalnya bergabung dalam Orang Muda Katolik (OMK). Organisasi ini menurut  saya menjadi salah satu wadah prefentif untuk meminimalisasi aksi tawuran remaja di Kedang.

Menjadi anggota OMK, mereka akan dibimbing soal kerohanian dan pembentukan karakter ke arah yang positif. Misalnya, melalui kegiatan kemping rohani, saling kunjung antarstasi dan kegiatan lainnya sehingga para remaja kita saling mengenal satu sama lain. Melalui wadah inipula mereka akan disadarkan bahwa tawuran remaja harus dihilangkan dan persahabatan lintaskampung melalui OMK adalah jalan terbaik.

Nah, sekarang bagaimana tugas kita menyadarkan para remaja kita untuk bergabung dalam OMK? Saya pikir bahwa sudah saatnya kaum remaja kita diarahkan, diajak untuk masuk OMK. Wadah ini bisa dipastikan menjadi jalan terbaik membentuk karakter untuk saling mengenal teman antarkampung.

Post a Comment for "Pesta Nikah yang Menyatukan, Tawuran Remaja di Kedang dan Wadah OMK"